[#RabuMenulis] : “Sampai Jumpa…!”

Standard

Embedded image permalink

Setiap hari minggu di minggu kedua setiap bulannya adalah hari mengunjungi Kakek di Malang. Ayah, Ibu, dan diriku bepergian dengan mobil dalam beberapa jam dari Surabaya ke Malang tiap kali hari itu datang. Salah satuSetiap hari minggu di minggu kedua setiap bulannya adalah hari mengunjungi Kakek di Malang. Ayah, Ibu, dan diriku bepergian dengan mobil dalam beberapa jam dari Surabaya ke Malang tiap kali hari itu datang. Satu-satunya hari kutunggu dalam tiap bulannya. Ya, kau tidak akan berkata begitu jika setiap harinya datang bersekolah dan menemui guru maupun anak-anak kelasmu yang seolah berkonspirasi untuk meruntuhkan mentalmu.

Kakek orang yang bersahaja, kalau tertawa lebih mirip suara kekehan kuda. Lucu sekali. Beliau punya kebun di belakang rumahnya yang berhawa sejuk. Sepanjang satu hektar lahan petak berisi pepohonan jeruk yang tidak begitu tinggi tapi tidak pendek juga.

Setiap kali mengunjungi Kakek, kami selalu berjalan bersama melewati jalanan landai di perkebunan kecilnya itu. Dalam perjalanan kami, cerita selalu mengalir dari ku. Banyak yang kuceritakan termasuk betapa sekolah membuatku tersiksa, dan dalam tahun-tahun sebelumnya, ketika masih bertubuh kecil dan mungil sekali, bahkan Kakek lah yang menjawab pertanyaan-pertanyaan terbesarku yang tidak dapat dijelaskan oleh Ibu ataupun Ayah. Seperti, ‘mengapa sih buah jeruk kebanyakan berwarna oranye seperti matahari?’ atau, ‘mengapa jeruk sering kali terasa asam, padahal wortel yang berwarna mirip saja tidak ada yang asam?’ lalu Kakek akan terkekeh dan memberi jawaban-jawaban yang dulu kupikir masuk akal, “Setiap pohon itu ada perinya. Kalau peri jeruk lebih suka mengambek daripada wortel, meski mereka sama baiknya memberi vitamin. Kalau sedang ngambek, maka jeruknya terasa asam.” Lalu aku percaya padanya, meski setelah aku berganti seragam menjadi biru putih, cerita itu tidak lagi terdengar logis di kepala guru sainsku.

Tetapi perjalananku kali ini tidak lagi ditemani Kakek dan cerita-ceritanya, juga candaan serta tawa kudanya. Mengiringi perkebunan ini terasa sepi. Tiap kali angin berhembus dan membelai-belai bawahan rokku, aku tersenyum. Menuliskan sebuah surat yang lalu kutanamkan di salah satu pohon jeruk yang paling besar dan tua.

“Selamat jalan, Kakek. Jadilah peri yang baik selalu. Ketika pohon ini berbuah, aku akan memakannya dengan senang hati karena aku tahu pasti rasanya sangat manis. Doakan perjalananku ke Berlin, ya, Kek. Sampai jumpa empat tahun lagi!”

— oleh : Annisa H.

POSESIF

Standard

Aku hitam. Tidak cantik. Tapi aku pintar menyenangkan hati pria. Termasuk, Pria itu. Setiap pagi dia akan mencariku, mencumbuku sepenuh hati, lalu menikmatiku. Aku suka dinikmati, apalagi dicintai. Aku tahu Pria itu mencintaiku, menggilaiku, dan membutuhkanku lebih daripada dia memberikan hatinya pada istrinya. Dia tidak pernah memarahiku sebagiamana dia sering bertukar bentakan dengan istrinya. Aku lah pembuainya.

Sejak awal aku tidak tahu mengapa dia menikah dengan wanita penyendiri itu, dia lebih cocok dengan wanita pemecah tawa. Sepertiku memecah tawanya. Walaupun aku tahu, akhirnya, aku tidak pernah menjadi pilihannya untuk menikah. Dia tidak bisa. Kami hanya bisa menikmati satu sama lain.

Setidaknya, aku bisa berada di sampingnya setiap pagi, kala dia membaca koran sebelum pergi bekerja. Kadang, dia sering memanggilku di kantor. Aku lah cintanya, aku lah yang nomor satu baginya. Ini tidak masalah bagiku, menjadi kenikmatan saja. Ini bukan hal mengecewakan untukku. Ini lebih baik, hidup sebagai kopi yang digilainya.

Elang Senja (Bagian Dua)

Standard

taken from http://www.pinterest.com/pin/205476801722093383/Satu-satunya harapanku adalah dapat terus melihat sayap itu terbang, tetapi semakin lama, dia terbang semakin jauh. Aku tahu akan ada saatn melihatnya terbang meninggalkanku. Tapi aku tidak ingin ditinggalkan, aku tidak ingin tidak dapat melihatnya lagi, aku tidak ingin kehilangan Elang-ku.

.

.

Gamelan, angklung, dan perkusi mengalun pelan. Kakiku menari seperti di dalam air dalam ketukan teratur, sementara kedua tanganku bergerak seperti ombak kecintaan sahabatku si raja langit. Setiap melakukan tarian, aku membayangkan diriku didayu-dayu oleh ombak yang pelan, tidak sulit karena setiap hari yang kupandang adalah laut. Lagipula, terlalu banyak hal tentang laut yang membuatku sangat menyukainya. Mungkin suatu saat jika aku mati maka aku akan menjadi buih seperti kisah Putri Duyung.

“Senjaaa,” panggilan seseorang yang amat kukenal itu menghentikan gerakanku. Nadanya ketika memanggilku panjang seperti nyanyian. Aku menoleh dan melihat cengirannya yang lebar, sejak kecil aku mengenalnya hingga kami hampir lulus kelas dua belas ini tidak berubah.

“Elang.” Aku menjawabnya pendek. Melihat dirinya tidak sendirian. Ada dua orang asing yang tampak lebih tua beberapa tahun dibandingkan kami berdiri di sebelah Elang. Salah seorangnya berambut pirang dan yang satu lagi coklat terang. Kulit mereka cokelat tapi tidak segosong kulitku ataupun Elang. Mereka melambai padaku, yang kubalas anggukan singkat.

Sudah beberapa tahun terakhir desa kami sering didatangi turis, banyak dari mereka malah berasal dari luar negeri. Biasanya mereka menjajal ombak seperti yang dilakukan Elang. Kudengar dari Elang ternyata laut kami salah satu yang terbaik di dunia. Ya, pantai di pesisir Pacitan. Pantai Plengkung kami. Tidak heran, Elang yang selalu bermimipi besar itu mudah berteman dengan mereka. Bahasa Inggris Elang pas-pasan, bahkan nilai ujiannya kemarin tidak sampai tujuh, tapi dia bilang ada satu bahasa yang menyatukan mereka. Yaitu, bahasa laut. Mereka menyukai ombak yang sama, menyukai kegiatan yang sama, makanya tidak sulit untuk berteman.

Salah stau dari mereka mengatakan sesuatu pada Elang yang tidak kumengerti. Aku hanya menangkap kata terakhirnya berakhir dengan –tiful. Maklum, kata yang paling dekat dari itu yang kuketahui hanya lah tiwul. Aku hanya membalas mereka dengan senyuman kaku.

“Apa katanya, Lang?” bisikku pada Elang, penasaran.

Elang mengekeh, matanya yang selalu berkilat-kilat itu menatap hidungku. “Hidugmu pesek, katanya.”

“Ah, Lang, seperti hidungmu tidak saja.”

Elang tergelak. Dia lalu berbicara pada kedua teman asingnya itu, badan mereka tinggi-tinggi dan besar—termasuk Elang, meski tidak setinggi mereka, kemudian mereka pergi sambil mengucapkan pisah padaku. Atau setidaknya itu yang kuperkiran.

“Sudah mau pulang, kan, Nja? Bareng, ya.”

Aku mengerutkan alis, “Kamu tidak menunggu mereka?”

Ndak. Mereka mau lihat-lihat kerajinan di sini katanya,” kata Elang. “Aku tidak bawa motor. Jalan kaki, ya.”

“Biasanya juga aku jalan kaki. Kamu saja yang gaya naik motor, padahal suaranya berisik, asapnya juga ke mana-mana.”

Lagi, Elang menyengir. Mengacak rambutku hingga kuciran kudaku berantakan. Aku suka melihat senyumannya itu, juga suka sentuhannya. Semakin kuat perasaanku, semakin jauh aku melihatnya. Karena sayap Elang tampak begitu besar dan lebar di mataku. Sering aku berharap, suatu hari aku bakal menjadi tempatnya pulang, tapi itu tidak mungkin. Maka sekali aku berpikir, bagaimana jika sayap itu berhenti mengepak, entah bagaimana caranya.

“Nja?” Elang membuyarkan pikiranku, sedikit terlonjak dibuatnya. Elang menertawaiku. “Jangan sering melamun, nanti salah menulis enam jadi lima lagi.”

Elang mengejek tentang masa kecil kami yang sudah enam tahun berlalu itu. Aku sering heran, seberapa besar ingatan pemuda tinggi tegap di sampingku ini, hingga dia masih bisa mengingat hal-hal kecil macam ini. Tetapi cukup dengan itu saja, senyumku terkembang.

“Hei, Nja, kamu masih ingat perkataanmu waktu di pantai dulu? Yang membuatku akhirnya belajar memecah ombak?” tanyanya, aku hanya mengangguk sambil menatapnya mata penuh cahayanya itu. “Lalu, aku bilang aku akan menjadi raja angkasa penakluk lautan?”

Aku tertawa. Tentu saja masih ingat, itu pertama kalinya aku melihat sayap di belakang Elang. “Kalau kamu mengatakannya sekarang jadi kedengaran memalukan.”

“Aku akan mewujudkannya, Nja.”

Senyumku lenyap. Alisku bertaut keras. “Bukannya sudah?”

“Tidak, Nja,” katanya, suaranya masih penuh semangat. “Dari orang-orang yang datang seperti Frank dan Jesse tadi, aku sadar kalau dunia dan lautan itu luas sekali. Aku ingin melihatnya, Nja. Aku ingin menaklukkan mereka.”

Aku merasakan wajahku memanas. Sumpah, aku seperti melihat Elang berjalan mengambang di sebelahku, tidak menginjak tanah.

“Setelah lulus nanti, aku akan pergi bersama Frank melihat dunia. Bapak sudah menyerah menjadikanku nelayan sepertinya, Mbok pun bahkan sudah mendoakan perjalananku nanti.”

Aku tidak berani membuka suara. Takut suaraku pecah atau bahkan hilang menjadi buih. Aku sudah berhenti melangkah, kakiku terasa berat mendadak. Bumi menelanku. Aku tidak salah saat melihat sayap itu, Elang memang memiliki sayap dan dia akan terbang sangat jauh. Tanpa sadar tanganku menggapai salah satu sayapnya, mencoba menghentikan kepakannya.

Jangan pergi, Lang. Jangan terbang…

Elang menoleh padaku. Tampak terkejut dengan air mata yang menggenang di mataku. Elang tertawa melihatku, saat itu aku sadar senyumnya menyimpan sendu untukku namun pula penuh buncahan kebahagiaan.

“Kukira kamu tidak bakal menangisiku, Senja.” Dia tertawa, menepuk-nepuk kepalaku. Dasar Elang, dia tidak penah peka, dia tidak pernah tahu bagaimana memperlakukan perempuan. Namun Elang, tahu membuatku kembali tertawa bersamanya. “Teruslah menari, Nja, aku suka melihatmu terbang.”

“Apa maksudmu, Lang?”

Elang tidak menjawab. Hanya tersenyum penuh rahasia. Lalu menarik tanganku, kami berjalan pulang tanpa dipenuhi suara seperti biasa. Sesuatu yang aneh bagiku tapi juga menyenangkan. Meski aku tidak mengerti ucapan Elang tadi, ataupun sedih kehilangan teman terbaik sekaligus pemuda kesayanganku, semuanya tidak lah menjadi penting ketika aku sadar sepasang mata itu akan selalu bercahaya dan memberiku kekuatan.

.

.

Yang Elang tidak tahu adalah, aku mulai menari tidak lama setelah dia belajar berselancar, dan satu-satunya alasanku adalah aku tidak ingin tertinggal darinya. Aku ingin suatu saat dapat mencapainya dengan sayapku sendiri.

Adios, Naruto

Standard

image

Saya akan ditinggalkan sahabat kecil lagi, selalu penuh dengan haru namun bahagia. Setelah beberapa tahun lalu Harry Potter melakukannya. Kini giliran Naruto.

Naruto akhirnya tamat. Saya kenal dengan Naruto saat kelas enam SD, sejak itu dia menjadi sahabat saya. Naruto lah yang membuat saya akhirnya begitu tergila-gila dengan anime, manga, dan jejepangan lainnya. Naruto memang bukan manga dan anime pertama saya, tetapi Naruto lah yang mengenalkan dunia itu pada saya.

Banyak cerita tentangnya. Ketika saya merasa kesepian saat SMP awal, hanya Naruto lah yang membuat hari saya tetap berwarna. Karena Naruto pula lah saya akhirnya punya teman baik pertama saya di Jogja, Anis, lalu bertemu dengan sahabat-sahabat hebat saya sampai sekarang ini. Mungkin ini terdengar melankolis, tapi, saya yang 13 tahun itu merasa kuat menjalani semua karena Naruto.

7 November 2014, kini saya sudah 19 tahun, harus mengucapkan kata pisah pada mereka (Naruto). Saya menangis, ya, benar-benar menangis. Belakangan ini saya agak melankolis memang. Saya senang pairing-pairing favorit saya menjadi canon, semua hal yang saya tunggu, berakhir manis. Percayalah, hal utama yang saya tunggu dari Naruto adalah OTP saya, SasuSaku. Hahaha. Saya peduli plotnya, tapi tidak sebesar pairingnya. Lalu, pagi di hari Jumat ini, saya melepaskan segala emosi saya. Benar-benar gegulingan, teriak-teriak tidak jelas, tertawa-tawa sendiri, semua karena mereka. Saya tidak peduli dipelototi orang serumah, toh, sebenarnya mereka sangat mengerti perasaan saya kok.

Di akhir chapter 700, Masashi Kishimoto mengucapkan kata terima kasihnya, saya pun kembali sesenggukan. Terima kasih Kishimoto-sensei! Terima kasih telah membuat manga ini. Terima kasih telah memberi saya sahabat yang bakal sepanjang masa di hati saya. Terima kasih atas semangatnya. Terima kasih telah menyelesaikannya dengan manis.

Saya belum mau mengucapkan pisah-atau mungkin tidak akan pernah. The Last Naruto The Movie bakal rilis 6 Desember nanti, itulah kado perpisahan sesungguhnya dari Naruto dan Kishimoto-sensei. Sampai saat itu tiba, saya bakal menantikannya dengan tenang.

Music Playlist. Checked; Start The Pardeeeh!

Standard

tumblr_n39futCCp41rpvlmco1_400

Saya kembali menulis, setelah sebulan lebih saya menganggurinya. Ya, saya hampir tidak menulis sama sekali, bahkan saya menelantarkan fanfic saya yang sudah saya janjikan bakal di-update secepatnya. Susah sekali rasanya move on dari proyek sebelumnya, lama sekali akhirnya saya baru bisa memutuskan untuk mendinginkannya di freezer sebelum mencari ide baru. Sampai-sampai rasanya otak saya ingin jungkir balik dari kepala ke kaki. Proyek baru pun sebenarnya tengah saya rombak ulang, padahal baru berjalan sepersepuluhnya saja. Tetapi mau bagaimana pun saya harus memulai dan menyelesaikannya. Untuk itu pun saya ikut merombak playlist saya.

Ya, musik itu sangat penting untuk mengikat mood saya. Dan akhir-akhir ini isi playlist saya banyak dijajah oleh musik-musik indie Korea, memang sudah agak lama saya menggandrungi Urban Zakapa dan Big Baby Driver, tapi yang terbaru ada Clazziquai Project dan 10cm. Untuk 10cm sendiri saya baru dengar beberapa sih, mereka duo dan akustikan, mendengar mereka memberi efek yang hampir sama ketika mendengarkan Depapepe. Saya suka sekali dengan Earthling, lucu lagunya. Lalu, Clazziquai Project, telinga saya terlanjur tercandu dengan musik mereka. Clazziquai sendiri kepanjangan dari Classic + Jazz + Groove, sudah bisa menebak lagu seperti apa yang mereka bawakan, kan? Saya suka jika lagu mereka sudah masuk kategori yang jazzy banget dan agak-agak bossanova, tapi saya juga termakan track lagu nuansa upbeat mereka. Horan ini-vocalis perempuannya-punya jenis suara yang smooth jazzy gitu, saya suka sekali mendengar suara solonya di Cat Bossa ataupun Take A Walk.

Selain K-indie, saya juga berkenalan dengan Coco D’or, agak telat sebenarnya bagi saya yang mengaku-aku pecinta musik Jepang. Mungkin, dulu tidak terjamah saja kali ya genre bagian jazz ini. Hahaha. Lalu sisanya masih diisi golongan semacam Ingrid Michaelson, Sara Bareilles, Prisilla Ahn, dan semacamnya.Jangan lupakan John Meyer, ya.

Tentu saja, L’arc~en~Ciel dan Vamps, juga ONE OK ROCK sudah masuk hitungan, ya. Ini dibutuhkan untuk menjaga mood gelap yang harus masuk dalam cerita.Juga, sebagai motivasi, agar saya terus semangat untuk menabung untuk konser mereka yang entah kapan mungkin datang tiba-tiba. Hihihihi.

Yuk, ah!

Don’t let your insecurity eats you, ’cause insecurity will kills you more than thousand bullets.– Icha H.P alias Me.
clazziquai

[Review Movie] Hotarubi No Mori E

Standard

Just finished this beautiful movie. Heartwarming yet bittersweet, makes me cry so much in the end. After I watched it, I feel like there’s a big hole in my chest. Makes my chest tight. I watched The Girl Who Leapt Through The Time and that was so sad, but my tears stopped in the corner of my eyes. I haven’t shed tears because of movies this much since a long time. I love folklore and fantasy things, so this is so much my kind cup of tea.The story, plot, animation, music, characters, all of them is perfect. Take your 45 minutes to watch this movie and love them, worth it! I guarantee😉

Here’s the synopsis:

The story of Hotarubi no Mori e centers around Hotaru, a little girl who gets lost in an enchanted forest where apparitions reside. A young boy, Gin, appears before Hotaru, but she cannot touch him for fear of making him disappear.

(Source: AniDB)

Trailer:
ps: I just found out that the director is the same from Durarara!! This is so great!

[Videos] Love, Laruku

Video

My favorite band ever, L’arc~en~Ciel. Favorite song, My Dear. The God of sexy voice, Hyde :* Sesungguhnya, ini lagu yang romantis nan dingin :’)

Yang bikin iri sampai nangis kejer sekaligus bikin merinding. Laruku sewaktu konser di Jakarta bawain My Heart Draws A Dream dan nyanyi bareng penonton, bagian ‘yume wo egaku yo’ itu yang paling sadis epic-nya. Psst, Hyde seksi beneeerrr! Hati-hati di kedipin Hyde! ;)))

 

[Book Review] Melbourne: Rewind by Winna Efendi

Standard

Blurb:

Pembaca tersayang,

Kehangatan Melbourne membawa siapa pun untuk bahagia. Winna Efendi menceritakan potongan cerita cinta dari Benua Australia, semanis karya-karya sebelumnya: Ai, Refrain, Unforgettable, Remember When, dan Truth or Dare.

Seperti kali ini, Winna menulis tentang masa lalu, jatuh cinta, dan kehilangan.

Max dan Laura dulu pernah saling jatuh cinta, bertemu lagi dalam satu celah waktu. Cerita Max dan Laura pun bergulir di sebuah bar terpencil di daerah West Melbourne. Keduanya bertanya-tanya tentang perasaan satu sama lain. Bermain-main dengan keputusan, kenangan, dan kesempatan. Mempertaruhkan hati di atas harapan yang sebenarnya kurang pasti.

Setiap tempat punya cerita.

Dan bersama surat ini, kami kirimkan cerita dari Melbourne bersama pilihan lagu-lagu kenangan Max dan Laura.

Enjoy the journey,

EDITOR

 

Review:

Sudah lama tidak menulis di sini, entah sudah berapa bulan (atau tahun?) juga tidak menulis review buku di blog ini, dan saya kembali dengan review novel Melbourne karya Winna Efendi. Salah satu dari serial Setiap Tempat Punya Cerita Gagas Media.

Sebenarnya, ini karya ketiga penulis yang pernah saya baca dan ini lah karya terbaiknya menurut saya. Melbourne bagi saya adalah sebuah kematangan dari penulis. Bahasanya menyenangkan untuk dibaca, rapi, manis, mengalir. Membaca Melbourne bagi saya seperti mendengarkan curhatan seorang sahabat.

Karakter-karakternya pun lovable sekali. Baik Max maupun Laura benar-benar seperti dua orang di dunia nyata. Bahkan saya menyukai Evan yang notabene ‘orang ketiga’ di novel ini, ada momen yang membuat saya terharu tentang Evan di Bab 12; Someday We’ll Know. Saya suka Max dan obsesinya akan cahaya. Percaya atau tidak, saya pun pernah kepikiran ingin menjadi lighting concert, ketika Max bercerita tentang cahaya saya bisa sangat mengerti tentang kesukaannya itu. Saya pun juga suka dengan bagaimana cara dia memperlakukan dan menyayangi Laura.

Di sisi lain, Laura benar-benar hidup. Pikiran dan ketakutan-ketakutannya lah yang membuatnya hidup. Kita, takut terluka makanya berhati-hati dalam urusan hati, takut hidup tanpa arah dan mimpi tapi tidak mau terbawa begitu saja arus dunia karena semua orang mengatakan begitu, takut kehilangan, dan lain-lain. Saya suka ke-quirky-an Laura dan playlist-playlist miliknya. Hey, we have same music taste, Laura! Saya pun tidak menyalahkan kalau dia sempat bingung dengan hatinya.

Yang saya suka dari novel ini adalah chemistry karakter-karakternya. Tidak hanya Laura-Max, saya pun suka chemistry Laura-Evan dengan kesamaan selera musik mereka. Sebenarnya, hubungan Laura dan Max mungkin adalah hubungan ideal atau impian saya (Hahaha).

Kekurangan? Konfliknya mungkin terasa ringan dan simpel juga klasik banget, tapi sebenarnya saya tidak punya punya masalah dengan itu. Karena novel ini dimungkingkan untuk bacaan ringan. Lagipula, kadang, saya perlu membaca novel-novel manis-ringan macam ini meninggalkan kejelimetan bacaan lain ataupun dunia. Ha! Oke, sebenarnya ada catatan bagi saya, mungkin ini bukan kekurangan. Tetapi, alangkah baiknya sebuah novel Indonesia tidak perlu menggunakan begitu banyak bahasa asing. Boleh-boleh saja ada, tapi kalau bisa jangan terlalu banyak, kan kita membaca sekaligus menambah kosakata bahasa kita sendiri. Belakangan ini, setiap saya membaca novel, metropop terutama, sering kali bercampur-campur dengan bahasa asing dalam intensitas banyak. Yah, tapi, ini hanya opini sendiri, sih.

Sebagai penutup, bagi yang belum baca, bacalah novel ini dan nikmatilah Melborne bersama Max dan Laura! Bye, Geeks!

 

PS: Denger-denger Melbourne ini mau dibikin film, lho! Kayaknya Karina Salim cocok tuh jadi Laura *IMHO*

 

PS (lagi): Bacalah sambil putar playlist Melbourne; Rewind, supaya lebih kerasa dalemnya. Hahaha

Takut; Bukan Kepada Malam

Standard

wpid-gwl7xgzmnu.jpg

Picture credit to its own

Aku terenyak mendengar jawaban ayah suatu malam di telepon untuk pertanyaanku, “Nggak baik-baik saja.” Katanya, suaranya tanpa asa dan lirih, aku pengin menangis mendengarnya seketika itu juga. “Ayah bingung bagaimana menyekolahkan anak-anak Ayah.”

Sekali lagi aku membiarkan diam merengkuhku bersama kalimat dari ayah. Hatiku patah. Bukan karena pernyataan itu, tapi karena ayah mengatakannya. Aku tidak bodoh juga tidak buta ataupun tuli. Aku tahu keuangan keluargaku tidak lah sebenderang dulu bahkan sangat amat redup. Parahnya, ibu yang selalu ingin menyenangkan anak-anaknya (aku dan tiga anaknya yang lain) seperti orang yang berpura-pura buta membelikan kami ini itu yang tidak murah lagi bagi kami, makan ikan hampir tiap hari yang sebenarnya adalah kemewahan sekarang. Ayah jauh merantau dari kami sejak bertahun-tahun lalu setelah keluar dari perusahaan lamanya, pulang ke rumah tidak menentu, paling cepat tiga bulan sekali.

Tapi pada titik ini akhirnya ayahku kembali mengatakannya saat masa ujian masuk sekolah tinggi akan tiba. Mendadak aku teringat enam bulan yang lalu, ayah pun mengatakan hal yang kurang lebih sama. Aku ingat aku menangis setelahnya, menangis sejadi-jadinya seharian, dua harian bahkan. Adikku berkata kalau tidak ada gunanya menangis, tapi saat itu dia tidak mengerti maksud kata ayah sesungguhnya, beliau memaksudkan agar aku berhenti kuliah sejenak.

Pada akhirnya aku berhenti kuliah. Berpikir untuk mencari pekerjaan sambil menunggu semester mendatang dapat melanjutkan kuliah. Tapi sepertinya diriku sepenuhnya telah dipinang oleh ‘berpikir’ itu sendiri. Selama setengah tahun itu pun aku tak kunjung mendapat kerja. Ada satu pekerjaan yang menyambangiku tapi entah aku apa yang menakutiku hingga aku akhirnya tidak mengambilnya. Memang ada desas-desus yang kudengar kalau kerja di sana ‘menakutkan’, ada kamar di ruang Bos yang baru disinggahi oleh sekertarisnya bersama Si Bos itu. Aku menjadikannya alasan pembenaran, tetapi sesungguhnya pun aku berpikir kenapa tak kucoba saja toh Si Bos juga tak bakal melirik anak bau kencur sepertiku.

Sampai aku di periode ini, kembali memikirkan keputusanku. Umur ayah sudahsetengah abad lebih tapi masih harus berjuang sendirian di kota orang untuk menghidupi dan memperjuangkan kami. Tidak ada tangis lagi, memang. Tapi pertanyaan itu kembali ke benak, “Apa harus memaksakan kuliah, Ti? Apa sebegitu pentingnya mendapat sarjana padahal toh kamu tak jauh-jauh bercita-cita bekerja di depan mesin tik dengan ratusan ide di kepalamu, ataupun menemani bule-bule berturis. Mimpimu kuliah ke Eropa mungkin kamu turunkan saja ke anakmu nanti, Yati.”

Betapa sedihnya aku mendengar pikiranku berujar demikian. Aku tidak tahu pikiran itu hasil buah hati atau logika tapi jawaban pun tak ada yang mau menghasilkan. Sesungguhnya teman, di masa Meganisme macam ini, perlukah itu semua? Label intelejensi sesungguhnya untuk label penarik perhatian atau penarik cita-cita?

Ya Allah, apa kesusahan ini sesungguhnya bisa hambaMu ini tanggung? Apa Engkau masih memercayakan hatiku untuk kuat menjalani ini semua, Ya Allah? Karena aku mulai lelah… dekapan ketakutan itu pun makin kuat pula.

Elang Senja (Bagian Satu)

Standard

dbde1318106e842636e691ac1c214072

 pict from flickr.com

Aku tidak mengerti mengapa seseorang bisa menyukai ombak besar yang menggulung liar, tapi Raja Angkasa itu membuatku mengerti setiap kali dia bermain di gulungannya Si Liar Itu.

.

Umur kami sebelas tahun ketika itu, saat dia pertama kali menantang ombak. Tempo itu pantai kami belum seramai sekarang. Belum ada penjual-penjual cindera mata berjejeran di pinggir-pinggir jalan, bule-bule di jalanan pantai kami, bahkan penginapan-penginapan nyaman yang mulai menggerus pemukiman kampung kami. Seperti hari-hari biasanya, aku dan Elang pulang sekolah bersama setelah melewati jalan berkilo-kilometer di bawah terik matahari.

Aku ingat benar kala itu tengah merajuk karena Elang mendapat nilai matematika lebih bagus dariku, padahal semalam aku lah yang mengajari dia mencongak. Kalau tahu begitu, aku tidak mau mengajarinya, toh, nilainya bisa lebih bagus dariku. Sepanjang jalan aku hanya diam seribu bahasa. Dasar Elang yang tak pernah peka, bukannya meminta maaf atau apa, dia malah mengejekku tuli, bisu, jelek, semuanya mungkin sudah dia sebutkan.

Bosan melihat sikapku yang dingin, Elang pun ikut diam. Jadilah setengah perjalanan kami diisi dengan hening. Sampai kami melewati kampung Mbah Tukimin, nelayan tua dari kampung sebelah, beliau hendak menuju pantai dan menawarkan kami naik ke motornya, yang setiap kali jalan membunyikan suara yang berisik sekali, jadilah kami dengan suka cita naik ke atasnya. Kami bonceng bertiga, aku duduk di depan Mbah Tukimin yang wangi keringat dan selalu berbau laut, sedangkan Elang di belakangnya. Kami diajak ikut ke pantai. Awalnya aku bilang, “ndak lah, Mbah, aku meh pulang saja. Mau belajar.”

Elang yang sepertinya masih kesal dengan sikap diamku membalas, “memang ndak seru main sama perempuan, Mbah.”

Aku merengut, dia selalu menyebalkan. Mbah Tukimin di belakangku yang mengendarai motor terkekeh, “lagi pada berantem, tah.” Katanya.

Kami tak membalas. Tapi pada akhirnya aku dibawa juga oleh Mbah Tukimin ke pantai tanpa protes. Malas mendengar ejekan Elang lagi. Tadinya aku ingin langsung pulang jalan kaki saja, tetapi Elang sudah menarik tanganku lebih dulu dan mengajakku berlarian di pasir yang menyengat.

“Elang!” Panggilku memrotesnya.

Tanpa peduli, eratannya makin kuat, ” belajar pun kamu gak akan bisa ngubah lima jadi enam, Nja.”

Aku menendang kakinya, kesal. Dasar tidak peka. “Aku cuma salah tulis, Lang!”

“Aku cuma kebetulan nulis yang bener.” Katanya lagi, kali ini dia menatapku sambil nyengir kuda. Giginya yang tajam-tajam tersusun rapi dan bersih. Kulitnya yang gelap kontradiksi dengan deretan giginya itu. “Sampai kapan mau merajuk terus? Tidak seru, tahu.”

Aku masih menekuk wajah. Mendumel pelan supaya tidak terdengar olehnya. Saat melihatnya yang masih menyengir lebar, aku menjulurkan lidahku padanya. Setelahnya kami berlarian menuju bibir pantai, kami berkejaran hingga kaki kami basah oleh air laut yang hangat dan kembali kering dikotori pasir putih.

“Maaf ya, Lang.” Kataku akhirnya setelah kami kelelahan dan berbaring di atas pasir sambil menatap langit biru. “Aku seharusnya nggak merajuk begitu. Kamu benar, aku yang nggak teliti.”

Elang tertawa, “begitu dong, baru namanya Senja, kawanku.”

Aku terkekeh.

“Nja, menurutmu aku bisa terbang, nggak?”

Kepalaku menoleh sepenuhnya pada pemilik rambut setengah botak itu. Alisku bertautan, biasanya Elang memang aneh tapi kali ini dia benar-benar sedeng.

“Pikirmu saja, Lang.”

Suaranya terdengar menerawang saat menimpaliku, “Bapak kasih nama Elang padaku, jadi kupikir kenapa tidak kalau aku berpikir bisa menembus langit biru di atas.”

“Kamu gila, Lang.” Balasku sambil menggeleng.

“Duh, Senja, mimpi kek sekali dua kali.”

Elang yang kukenal memang penuh dengan pemikiran-pemikiran tinggi yang kadang-kadang tidak kumengerti. Dia selalu bermimpi. Sebenarnya, aku selalu iri karenanya.

“Lang, daripada melintasi langit, kenapa tidak mencoba yang lain saja. Biar beda dengan elang-elang di atas sana. Kamu kan pernah bilang kalau kamu adalah raja dari raja-raja angkasa itu.”

Aku melihat Elang tersenyum. Tampak puas dengan dukunganku. Dia bangkit duduk bersila dari berbaringnya di sebelahku. Matanya berbinar menatap laut yang membawa ombak tinggi yang mengecil sebelum lepas di pinggiran pantai. Aku ikut bangkit duduk, menengok ke arah bocah itu dengan penasaran. Apa yang dipikirkannya lagi?

“Nja pulang, yuk. Aku mau main ke tempat Mas Kaka.”

Mas Kaka, nama sebenarnya Katarjo, itu anak Pakde Harjo yang suka nyeleneh dan preman kampung kami. Walaupun aku tidak mengerti preman itu apa, tapi Ibuk pernah bilang kalo Mas Kaka itu seram dan tatonya banyak di tangan. Bagiku, Elang, dan beberapa anak di kampung kami, Mas Kaka itu orang yang lucu sekali dan hebat. Dia katanya sudah pernah ke Bali, kami sering mendengar cerita tentang perjalanannya itu yang menyeberangi tanah pulau Jawa kami ini.

Aku tidak bertanya lagi setelahnya. Kalau Elang sudah semangat begini tidak ada gunanya lagi menghalaunya. Bertanya maunya apa juga tidak perlu, nanti juga bakal dia beritahu kalau waktunya sudah tepat baginya.
Jadilah kami pulang siang itu.

.

Selama hampir seminggu, aku selalu pulang sampai ke kampung kami sendirian. Elang selalu bilang dia sudah ada janji dengan Mas Kaka. Pernah sekali kutanya tapi dia bilang kalau itu rahasia antara pria. Aku hanya merengut dan pulang dengan dongkol.

Hari minggu setelah dua minggu Elang bermisi rahasia dengan Mas Kaka, dia datang setelah shalat subuh di mushalla kampung kami masih lengkap dengan peci dan sarung yang disampirkan di pundaknya. Aku baru selesai shalat ketika itu, segera ditarik olehnya tanpa diizinkan bertanya sepatah kata pun.

Kami sampai di pantai saat langit mulai menerang. Aku didudukkan di atas pinggir pantai. Elang menyuruhku menutup mata sambil berhitung tiga puluh detik. Tahu sia-sia menolak, jadi kulakukan saja tanpa banyak protes. Begitu hitunganku selesai dan mataku terbuka, aku melihatnya. Aku melihat Elang dengan sayapnya yang perkasa dan indah mengikuti gerakan gulungan ombak di atas papan. Ombak yang habis menjatuhkannya ke air. Dia tertawa sesegar udara laut pagi kala itu.

“Senja! Aku ingin menjadi Raja Angkasa Penakluk Lautan saja!” Teriaknya disela tawanya.

Tawanya selalu membuatku tertular. “Dasar Gembleng!”

Sepanjang hari itu kami menghabiskan waktu di pantai. Setelahnya menjadi kebiasaan kami setiap minggu. Aku memang hanya menontonnya dari bibir pantai, tapi, entah kenapa tidak pernah menjenuhkan bagiku.

.

Tiap kali aku memandang langit biru ataupun laut. Raja Angkasa satu itu lah yang selalu muncul di benakku. Dia selalu membukakan mataku dan menyadarkanku bahwa begitu banyak hal yang sayang untuk dilewatkan. Tetapi dia pula lah yang membuatku mengerti bahwa hati seseorang bisa merasakan pedih begitu besar karena orang lain.